Indonesia Dari Struk Belanja

REPUBLIK STORE INDONESIA

CABANG KELAS MENENGAH & BAWAH
NPWP: 00.000.SURVIVE-DAILY.000
KASIR #01: KELUARGA BIASA

========================================

INDONESIA DARI STRUK BELANJA

========================================

Struk pertama ditemukan di dasar tas belanja.

Kertasnya kecil. Putih. Panjang. Tulisan hitamnya mulai pudar.

Tidak ada yang istimewa. Hanya:

BERAS 5 KG Rp 68.000
TELUR 1 KG Rp 28.000
MINYAK GORENG 2 LITER Rp 34.000
GULA 1 KG Rp 16.500
MIE INSTAN 5 PCS Rp 16.000
TOTAL: Rp 178.500

Di bagian bawahnya tertulis: Terima kasih.

Tidak ada yang bertanya apakah keluarga itu juga berterima kasih.

—————————————-

[TRX: SENIN – DAPUR]

Ibu membeli beras.

Dulu lima kilogram cukup untuk hampir seminggu. Sekarang hanya cukup beberapa hari. Bukan karena mereka makan lebih banyak. Harga beras yang berubah.

Ibu tidak mengatakannya kepada anak-anak. Ia hanya mulai memasak sedikit lebih sedikit. Nasi yang biasanya memenuhi piring sekarang menyisakan ruang.

Anak-anak tidak memperhatikan. Mereka hanya tahu bahwa lauk semakin sering dipotong menjadi bagian-bagian kecil.

Satu potong ayam untuk dua orang. Satu telur dibagi empat.

Di atas meja, tidak ada yang mengeluh. Hanya sendok yang sesekali berhenti.

[TRX: SELASA – ENERGI]

>> BENSIN — Rp 30.000

Ayah pergi bekerja.

Jarak rumah ke tempat kerja tidak berubah. Motor juga tidak berubah. Jalan yang dilalui masih jalan yang sama. Yang berubah adalah harga perjalanan menuju gajian.

Ayah memasukkan struk ke dompet. Ia menyimpan semua struk. Katanya untuk menghitung pengeluaran.

Sebenarnya ia sedang menghitung: berapa lama gajinya masih bisa bertahan.

[TRX: RABU – KONEKSI]

>> PULSA — Rp 25.000

Anak sulung membutuhkan internet untuk sekolah. Guru mengirim tugas melalui grup. Tugas dikumpulkan secara daring. Masa depan, katanya, sudah digital.

Ibu bertanya: “Kalau kuotanya habis bagaimana?”

Tidak ada yang menjawab. Mereka membeli pulsa. Karena pendidikan harus terus berjalan.

[TRX: KAMIS – MINIMAL]

Struk hari itu lebih pendek. Hanya:

– TELUR ½ KG
– TEMPE
– CABAI
– GARAM
TOTAL: Rp 47.000

Ayah melihat jumlahnya. Kemudian melihat dompet. Kemudian memasukkan struk ke dalam dompet.

Struk itu bertemu struk-struk sebelumnya. Mereka semua tampak seperti kertas-kertas kecil yang sedang menunggu seseorang menyadari sesuatu.

[TRX: JUMAT – KESEHATAN]

>> OBAT — Rp 63.000

Ibu sakit. Tidak parah, katanya. Hanya pusing. Hanya masuk angin. Hanya kecapekan.

Kata “hanya” menjadi semakin sering digunakan di rumah itu:

Hanya pusing. Hanya demam. Hanya batuk.
Hanya tidak punya uang. Hanya belum mampu.
Hanya bulan ini. Hanya sementara.

[TRX: SABTU – KEINGINAN]

Anak bungsu meminta sepatu baru. Sepatu lamanya sudah terbuka di bagian depan. Jarinya terlihat ketika berjalan.

“Masih bisa dipakai,” kata Ayah. Anak itu mengangguk.

Ia belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan di sekolah: keinginan harus menunggu sampai kebutuhan selesai.

Masalahnya, kebutuhan tidak pernah selesai.

[TRX: MINGGU – NOL]

Tidak ada struk.

Mereka tidak pergi ke mana-mana. Tidak membeli apa-apa. Tidak makan di luar. Tidak menonton film. Tidak jalan-jalan.

Hari Minggu digunakan untuk tinggal di rumah. Anak-anak bermain dengan ponsel. Ibu mencuci pakaian. Ayah memperbaiki keran.

Dari televisi terdengar berita tentang pertumbuhan ekonomi. Angka-angka besar muncul di layar: Persentase. Grafik. Proyeksi. Pertumbuhan. Kata-kata yang sangat indah.

Ayah menatap televisi sebentar. Kemudian mematikan suara. Ia tidak tahu bagaimana cara menghitung pertumbuhan ekonomi dari isi dompetnya.

========================================

BULAN BERIKUTNYA (DOWNGRADE)

Struk-struk mulai berubah:

Beras : 5 KG → 3 KG
Telur : 1 KG → ½ KG
Minyak : 2 LITER → 1 LITER
Daging : ADA → TIDAK ADA
Buah : ADA → SESUAI MUSIM
Tabungan: ADA → TERPAKAI → TIDAK ADA

Suatu hari anak sulung membawa pulang selembar kertas dari sekolah. Ia mendapatkan tugas: “Tuliskan cita-citamu.”

Ia menulis: Dokter. (dihapus)

Ia menulis: Guru. (dihapus lagi)

Kemudian menulis: Orang kaya. (ditatap lama, lalu dihapus)

Akhirnya ia menulis: Punya rumah sendiri.

—————————————-

[TIMELINE: +3 TAHUN]

Struk-struk itu semakin panjang. Bukan karena barang yang dibeli semakin banyak. Karena harga yang tertulis semakin besar.

Kertas-kertas kecil itu mulai memenuhi laci. Ada struk dari supermarket, minimarket, apotek, SPBU, toko bangunan, warung. Semua menyimpan potongan-potongan kehidupan keluarga itu.

Jika seseorang ingin mengetahui bagaimana keadaan mereka, tidak perlu bertanya. Cukup membaca struk. Dari sana ia akan tahu:

  • ketika mereka mulai berhenti membeli daging,
  • ketika mereka mulai membeli obat generik,
  • ketika mereka berhenti menabung,
  • ketika anak berhenti meminta sesuatu,
  • ketika ayah mulai berjalan kaki,
  • ketika ibu mulai membeli beras dalam jumlah lebih kecil.

Struk-struk itu tidak pernah mengatakan: Kami sedang kesulitan. Mereka hanya menunjukkan angka.

[TRX: FINAL]

Ayah meninggal.

Tidak ada struk untuk kematian. Tidak ada barcode. Tidak ada diskon. Tidak ada harga khusus.

Hanya biaya pemakaman. Biaya kain kafan. Biaya ambulans. Biaya pemakaman.

Kertas-kertas baru kembali masuk ke laci. Ibu menyimpannya. Ia tidak tahu untuk apa. Mungkin karena setelah bertahun-tahun, ia terbiasa menyimpan bukti bahwa sesuatu pernah dibeli. Dan sekarang, ia ingin menyimpan bukti bahwa seseorang pernah hidup.

Anak sulung akhirnya pergi dari rumah. Ia mendapatkan pekerjaan di kota. Gajinya lebih besar daripada gaji Ayah dulu. Tetapi harga sewa rumah juga lebih besar. Transportasi lebih mahal. Makan lebih mahal. Internet lebih mahal.

Hidupnya berbeda. Struknya sama. Ia mulai menyimpan struk sendiri.

========================================

ARSIP NASIONAL: JUTAAN TRANSAKSI

Suatu hari, seseorang menemukan seluruh kumpulan struk itu. Tidak ada nama keluarga. Tidak ada alamat. Tidak ada foto. Tidak ada kisah. Hanya ribuan transaksi.

Ia menyusunnya berdasarkan tanggal. Kemudian jenis barang. Kemudian harga. Ia menemukan sesuatu: Ternyata keluarga itu tidak istimewa. Struk yang sama ada di jutaan rumah lain.

Beras. Minyak. Telur. Bensin. Pulsa. Obat. Sewa. Pajak. Cicilan. Pendidikan. Kebutuhan pokok. Kebutuhan yang berubah menjadi keinginan. Keinginan yang berubah menjadi kemewahan. Kemewahan yang akhirnya hanya bisa dilihat dari layar.

Sebuah negeri tiba-tiba terlihat seperti lembaran panjang yang tidak pernah selesai dicetak.

Ia membaca satu per satu. Lalu ia mengerti:

Indonesia ternyata bisa dibaca tanpa buku sejarah.
BACA STRUK BELANJANYA.

Di sana ada inflasi. Ada upah. Ada kelas sosial. Ada kesehatan. Ada pendidikan. Ada transportasi. Ada pajak. Ada kemiskinan. Ada pertumbuhan. Ada keluarga yang naik kelas. Ada keluarga yang turun kelas. Ada orang yang membeli rumah. Ada orang yang menjual rumah. Ada orang yang membeli susu. Ada orang yang hanya mampu membeli air. Ada orang yang membeli masa depan. Ada orang yang membayar masa lalu.

TERIMA KASIH TELAH BERBELANJA.

(Simpan struk ini sebagai bukti pembayaran hidup Anda)

Di jalan, orang-orang sedang berangkat kerja. Membawa tas. Membawa bekal. Membawa anak. Membawa utang. Membawa harapan. Membawa struk. Mereka semua berjalan menuju hari berikutnya.

Mungkin sebuah negara bukan hanya dibangun oleh gedung, jalan, undang-undang, dan pidato. Mungkin sebuah negara juga dibangun dari jutaan keputusan kecil di depan kasir: tentang apa yang mampu dibeli, apa yang harus dikorbankan, apa yang terpaksa tidak jadi dibeli, dan tentang berapa banyak kehidupan yang harus dihitung sebelum seseorang akhirnya berkata: “Cukup.”

||| | |||| || | ||||| ||| || |||| || ||||| ||||

987-0-INDONESIA-2026

Di lantai, ribuan struk itu masih berserakan.
Jika disusun dari ujung ke ujung,
mungkin panjangnya cukup untuk mengukur sebuah negeri.

Or perhaps,
it is enough to show
the high price of being human within it..

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai